Senin, 27 Oktober 2008

KB Cap Jempol

Perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya pada awal tahun 70-an sedang giat-giatnya mengkampanyekan program KB. Klinik perusahaan juga demikian.
Poster KB ditempelkan di tempat-tempat yang strategis agar mudah dibaca oleh khalayak ramai. Klinik sibuk, berhubung banyak karyawan yang mau ikutan KB. Karyawan umumnya rakyat setempat yang berasal dari kampung-kampung di sekitarlokasi perusahaan. Karyawan yang berasal dari daerah lain juga banyak; di antaranya dari Tapanuli,Minang, Jawa Barat (umumnya mechanic), Jawa Tengah< Ambon, dan sebagainya.
Salah seorang karyawan yang berasal dari Jawa Tengah mengeluh karena anaknya sudah Sembilan orang. Punya anak lagi, kasihan istri; di samping usia pasangan ini sudah mendekati angka 50-an. Soal KB masih awam, nggak ngerti.
Terjadi dialog antara si pegawai dengan dokter klinik.
Pegawai : ”Pak Dokter, saya mau ikut KB saja.”(dengan logat Jawa Tengah yang Kental ). Anak saya sudah Sembilan, kasian istri… pak !”
Dokter : “ Oh… begithu toh Pak…” Jadi sampeyan nggak pengen punya anak lagi toh…”
Pegawai : “ Njee… Pak, tulung yo…”
Dokter : ” Baik… Ini ada beberapa cara. Yang ini (sambil memperlihatkan kemasan pil KB), Ibune… tinggal minum”. Kalau yang ini, bapak yang pke (sambil memeperlihatkan bungkus plastic kecil). “ Bapak piih yang mana…?
Pegawai : “ Biar yang itu sajjaaa pak dokter… biar saya yang pake…” Kasihan Istri kalau harus minum pil…”
Dokter : “ Baik… Ini plastiknya bapak buka dan dipakenya beghini…! (sambil menyarungkan karet KB ke Jempol kirinya memberi contoh). Kalo di pake ‘e begini, bapak ibu aman… Ibu ‘e nggak bakalan Hamil lagi…” Ngerti toh… pak…”
Pegawai : “ Njeee… Pak Dokter.” Selang beberapa bulan, si pegawai kembali ke klinik dengan muka kesal karena ternyata istrinya hamil lagi.
Pegawai : “ Pak Dokter pie toh Pak… istri saya kok hamil lagi…? ”Katanya nggak bakal hamil…! (bicara dengan dokter dengan nada kesal).
Dokter : “ Hamil lagi ?... nggak mungkin…”
Pegawai : “ Benner lho Pak… ini bapak liat sendiri…(sambil menunjuk pada istrinya yang berdiri di sampingnya).
Dokter : “ Lha.. Bapak makek ‘e ghimana…?” (bertanya heran…)
Pegawai : “ Iyo… sesuai petunjuk Bapak…! Ini saya sarungkan ke jempol kiri saya, ya sudhahhh…!”
Dokter : “ Pak ’e, nyarungnya jangan ke jari lho Pak…! “ Walah… Walah…”

Tidak ada komentar: