Istri Bardhono akhirnya minta cerai karena musibah yang dialami oleh Bardhono membuat alat vitalnya mengecil, dan tidak bisa disembuhkan.
Nasib tragis yang menimpa Bardhono ini mengundang banyak simpati. Kabar ini akhirnya juga sampai ke telinga Mbah Agung Gede Anune. Lalu melalui telepati dipanggilnya Bardhono untuk datang ke tempat pertapaan di Desa Tuwel di dekat Gunung Guci.
Saat Bardhono datang dan sujud dihadapan MbahAgung Gede Anune, beliau memberikan wejangan-wejangannya:
“Nak Bardhono… tidak usah Ananda sedih dan berkecil hati atas musibah yang telah menimpa Ananda. Mbah punya cara agar Nak Bardhono bisa memulihkan ‘senjata’ Ananda seperti sedia kala” demikian Mbah berkata.
“Sebelumnya saya hanturkan terima kasih atas perhatiaan Mbah kepada saya, saya ingin sekali bisa kembali normal dan kawin lagi Mbah…. Tapi tolong beri saya petunjuk, bagaimana caranya supaya saya bisa kembali seperti semula ?” Tanya Bardhono.
“Nak… sebenarnya semuanya itu bersumber dari kebaikan. Asalkan Nak Bardhono rajin beramal dan berbuat baik niscaya semuanya akan disembuhkan, bahkan akan mendapat kebaikan yang berlipat-lipat” kata Mbah.
“Maksud Mbah bagaimana? Maaf saya kurang jelas.”
“Begini Nak… sejak saat ini, banyaklah berbuat baik dan beramal. Mbah sudah doakan Nak Bardhono. Terhitung sejak saat ini, apabila Nak Bardhono berbuat baik atau beramal kepada orang lain dan orang tersebut mengucapkan terima kasih, maka’Anu’-nya Nak Bardhono akan bertambah panjang dan bertambah besar satu mili meter. Tapi Mbah pesan, jangan lupa… cepat kasih tahu kalau ukurannya sudah sesuai dengan yang Nak Bardhono inginkan” demikian penjelasan Mbah Agung.
“Sekarang pulanglah dan banyaklah berbuat baik dan beramal kepada sesame. Jika orang tersebut berterima kasih, maka berangsur-angsur Nak Bardhono akan sembuh…”
Dengan girang hati Bardhono kembali ke rumahnya, dan sejak saat itu ia rajin berbuat baik dan beramal.
Abu temanya yang sedang tongpes, diberinya 50.000 rupiah sehingga ia berterima kasih. Sri temanya yang sedang menganggur dibantunya mencari pekerjaan sehingga Sri berterima kasih kepadanya.
Bardhono memperhatikan perubahan di Anunya, benar deh mantera si Mbah manjur. Ia melihat anunya berangsur-angsur membesar kembali.
Pada hari ketujuh, akhirnya Bardhono menyadari bahwa anunya sudah kembali normal seperti semula. Ia sudah berniat untuk kembali kepada Mbah Gede Anune dan minta agar si Mbah mencabut manteranya. Namun ia pikir-pikir… “Wah tunggu deh sehari lagi, gue mau gedean dikit lagi…., kan asyik bisa nambah barang dua mili lagi”.
Siang hari itu Bardhono sedang berjalan di sekitar jalan Thamrin, dia melihat seorang perempuan buta yang akan menyeberang jalan. Merasa iba dan ingin berbuat baik, akhirnya Bardhono mendekat ke Wanita buta itu dan menuntunnya menyeberang jalan melalui jembatan penyebrangan di depan Hard Rock CafĂ©…
Si Wanita buta merasa bersyukur karena sudah ada orang yang telah berbaik hati membantunya.
“Terima KAsih Nak, atas bantuannya…” kata perempuan itu.
Wah udah tambah satu mili lagi nih… (kata Bardhono dalam hati). Kalo gua kasih duit sepuluh ribu kali si Ibu ini bilang terima kasih sekali lagi,jadi lumayan deh nambah dua mili, habis ini gue lagi minta Mbah untuk mencabut manteranya.
Lalu Bardhono mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan, diserahkan kepada perempuan buta itu sambil berkata.
“Bu… tidak apa-apa, saya senang sekali bisa menolong Ibu menyebrang jalan. Dan ini saya serahkan uang sepuluh ribu untuk ongkos ibu naik taxi atau naik bus… supaya bisa cepat sampai rumah,” kata Bardhono dengan nada tulus.
Si Perempuan itu sangat terkejut dan hampir tidak percaya hari ini dia ketemu dengan orang yang begitu baik hatinya, sudah membantu menyebrang jalan eh ditambah lagi dengan kasih duit sepuluh ribu. Maka ia menjadi terharu sekali dan mengucapkan terima kasih kepada Bardhono.
“Nak… baru kali ini saya ketemu dengan orang yang sebaik Anda, walaupun Ibu tidak kenal dengan Anda tapi Anda begitu baik menolong dan membantu Ibu… maka Ibu ucapkan BERIBU-RIBU TERIMA KASIH Nak… sekali lagi BERIBU-BERIBU TERIMA KASIH…”
BArdhono panic karena merasa tiba-tiba anunya membesar dan celananya tidak mampu lagi menampung.
Jumat, 21 November 2008
Senin, 27 Oktober 2008
Nggak Kompak Ni Ye…
Pendekatan Otong, baik secara territorial maupun pendekatan secara diplomasi akhirnya membuahkan hasil (lihat kuahnya dulu ah…).
Otong akhirnya makin dekat dengan Susi, dan disuatu malam Minggu, Susi mengundang Otong untuk makan bareng di rumahnya, dalam suasana yang lebih resmi, maksudnya sekalian dikenalkan sam Ortu Susi.
Otong kontan girang, namun juga bercampur grogi, karena terus terang meskipun selama ini ia sudah beberapa kali pacaran, tapi semuanyasebatas main-main saja, belon pernah sampai makan bareng sama Ortu cewek.
Pikir Otong jangan sampai ntar malam malu-maluin, ketahuan kalo dia makanya banyak. Maka sore sebelumnya ia datang ke rumah Susi, ia berusaha makan apa saja supaya nanti waktu makan malam tidak rakus lagi. Termasuk satu piring kacang rebus yang dibelinya seribu perak dari penjaja yang lewat di depan kostnya.
Saat yang ditunggu-tunggu tibalah… acara perkenalan dengan Ortu Susi berjalan mulus, karena mereka emang ramah dan gampang ngobrol. Sampai akhirnya tibalah acara makan malam bersama…
Saat otong sedang menyuap makananna yang setengah piring dan sesekali melirik Susi yang malam itu Cuantik banget… perutnya tiba-tiba terasa kembung, kali pengaruh sepiring kacang rebus yang disikat tadi sore…
‘Wah gue pingin buang angin gimana caranya nih…’ pikir si Otong.
Mau minta ijin ke WC, wah nggak sopan nihm masak lagi makan ditinggal ke WC, bisa merusak kesan pertama nih pikirnya. Si Otong cari akal…
Akhirnya ia dapat ide… kalo kursinya di geser sedikit, timbul bunyi ‘krutttt…’ nah klo dia buang angin (maaf) kentut barengan sama bunyi itu kan bunyi anginnya nggak kedengeran.
Akhirnya dengan hati-hati Otong menggeser kursinya sedikit sambil membuang hajatnya…, tapi saying bunyi anginnya dengan bunyi kursi digeser ngggak bareng sehingga yang keluar bunyi ‘kruuuttt….’ Dan selang sepersekian detik baru ‘tuuutttt……’
Otong udah panas dingin, malu ketahuan abis kentut. Ia melirik ke Susi sama Ortunya, beruntung si otong karena mereka ternyata pasang muka biasa-biasa aja, seolah-olah nggak ada apa-apa. Dan kali ini kentutnya juga nggak bau.
‘Selamet deh gue…’ kata si Otong dalam hati. Dan akhirnya acara makan malam selesai dengan mulus.
Waktu Otong mau pamitan pulang, di depan pintu tiba-tiba Susi nyeletuk :
‘Eh Tong…. Tadi nggak kompak ni ye….’ (diem-diem rupanya Susi denger juga).
Otong akhirnya makin dekat dengan Susi, dan disuatu malam Minggu, Susi mengundang Otong untuk makan bareng di rumahnya, dalam suasana yang lebih resmi, maksudnya sekalian dikenalkan sam Ortu Susi.
Otong kontan girang, namun juga bercampur grogi, karena terus terang meskipun selama ini ia sudah beberapa kali pacaran, tapi semuanyasebatas main-main saja, belon pernah sampai makan bareng sama Ortu cewek.
Pikir Otong jangan sampai ntar malam malu-maluin, ketahuan kalo dia makanya banyak. Maka sore sebelumnya ia datang ke rumah Susi, ia berusaha makan apa saja supaya nanti waktu makan malam tidak rakus lagi. Termasuk satu piring kacang rebus yang dibelinya seribu perak dari penjaja yang lewat di depan kostnya.
Saat yang ditunggu-tunggu tibalah… acara perkenalan dengan Ortu Susi berjalan mulus, karena mereka emang ramah dan gampang ngobrol. Sampai akhirnya tibalah acara makan malam bersama…
Saat otong sedang menyuap makananna yang setengah piring dan sesekali melirik Susi yang malam itu Cuantik banget… perutnya tiba-tiba terasa kembung, kali pengaruh sepiring kacang rebus yang disikat tadi sore…
‘Wah gue pingin buang angin gimana caranya nih…’ pikir si Otong.
Mau minta ijin ke WC, wah nggak sopan nihm masak lagi makan ditinggal ke WC, bisa merusak kesan pertama nih pikirnya. Si Otong cari akal…
Akhirnya ia dapat ide… kalo kursinya di geser sedikit, timbul bunyi ‘krutttt…’ nah klo dia buang angin (maaf) kentut barengan sama bunyi itu kan bunyi anginnya nggak kedengeran.
Akhirnya dengan hati-hati Otong menggeser kursinya sedikit sambil membuang hajatnya…, tapi saying bunyi anginnya dengan bunyi kursi digeser ngggak bareng sehingga yang keluar bunyi ‘kruuuttt….’ Dan selang sepersekian detik baru ‘tuuutttt……’
Otong udah panas dingin, malu ketahuan abis kentut. Ia melirik ke Susi sama Ortunya, beruntung si otong karena mereka ternyata pasang muka biasa-biasa aja, seolah-olah nggak ada apa-apa. Dan kali ini kentutnya juga nggak bau.
‘Selamet deh gue…’ kata si Otong dalam hati. Dan akhirnya acara makan malam selesai dengan mulus.
Waktu Otong mau pamitan pulang, di depan pintu tiba-tiba Susi nyeletuk :
‘Eh Tong…. Tadi nggak kompak ni ye….’ (diem-diem rupanya Susi denger juga).
Siapa yang Ngejorokin Gua ??
Suatu waktu, sebelum kapal Tampomas tenggelam, dalam pelayaran Jakarta-Medan, di tengan perjalanan, waktu itu sore hari seorang anak kecil jatuh ke laut. Semua oaring hanya bisa menonton si anak kecil berjuang sendirian melawan ombak, awak kapal pun tidak ada yang berani menolong. Kapten kapal lewat Microphone menghimbau supaya ada yang mau menolong anak kecil tersebut sebelum meninggak di telan ombak, tetapi tidak ada yang berani, semua hanya bisa menonton, orang tua si anak hanya bisa menangis tersedu-sedu.
Namun, di tengah kehiruk-hirukan suasana, seorang anak muda melompat laut dan menolong si anak kecil, awak kapal segera melontarkan tali ke bawah dan akhirnya sia anak muda berhasil menolong anak kecil tersebut dan mereka berdua berhasil di angkat ke anak kapal.
Begitu sampai di atas kapal, Kapten kapal mendatangi pemuda berani memberikan pujian dan ucapan terima kasih, “ Anda berani sekali, orang seperti andalah yang di butuhkan oleh Negara ini, dan terima kasih atas keberanian Anda, Anda menyelamatkan reputasi saya juga, kita akan mengadakan pesta Syukuran mala mini, Oh.. ya, nama anda Siapa ? Si anak muda menjawab dengan muka ketus dan cemberut, ”Amir”.
Ibu si anak kecil datang dan memeluk Amir, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyadan juga pujian-pujian serta janji-janji untuk menyenangkan hati si Amir yang tetap kelihatan tidak senang dan cemberut.
Orang-orang juga bingung melihat sikap Amir yang demikian, tetapi setiap orang memberikan selamat kepadanya dengan hati bertanya-tanya.
Malamnya pada saat pesta yang di siapkan meriah, dimulai dengan sambutan-sambutan. Pertama-tama sambutan dari Kapten kapal yang memuji-muji keberaniaan Amir, selanjutnya sambutan dari orangtua si anak kecil.Pembawa acara pun tampil, “ Para hadirin yang saya mulikan, tibalah saatnya kita mendengar sambutan dari Pahlawan kita hari ini, seorang pemuda Indonesia yang berani, kepada saudara Amir saya persilahkan maju ke depan.
Amir pun maju ke depan, tetap dengan wajah yang semakin cemberut, di depan Microfone dia diam dan memandang berkeliling ke semua hadirin dan memulai sambutannya, masih tetap cemberut dan menunjukkan ketidakpuasan, “ Saudara-saudara, saya tidak akan berpanjang-panjang, saya Cuma mau tanya… tadi sore siapa yang ngejorokin saya dari kapal ini…?!
Namun, di tengah kehiruk-hirukan suasana, seorang anak muda melompat laut dan menolong si anak kecil, awak kapal segera melontarkan tali ke bawah dan akhirnya sia anak muda berhasil menolong anak kecil tersebut dan mereka berdua berhasil di angkat ke anak kapal.
Begitu sampai di atas kapal, Kapten kapal mendatangi pemuda berani memberikan pujian dan ucapan terima kasih, “ Anda berani sekali, orang seperti andalah yang di butuhkan oleh Negara ini, dan terima kasih atas keberanian Anda, Anda menyelamatkan reputasi saya juga, kita akan mengadakan pesta Syukuran mala mini, Oh.. ya, nama anda Siapa ? Si anak muda menjawab dengan muka ketus dan cemberut, ”Amir”.
Ibu si anak kecil datang dan memeluk Amir, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyadan juga pujian-pujian serta janji-janji untuk menyenangkan hati si Amir yang tetap kelihatan tidak senang dan cemberut.
Orang-orang juga bingung melihat sikap Amir yang demikian, tetapi setiap orang memberikan selamat kepadanya dengan hati bertanya-tanya.
Malamnya pada saat pesta yang di siapkan meriah, dimulai dengan sambutan-sambutan. Pertama-tama sambutan dari Kapten kapal yang memuji-muji keberaniaan Amir, selanjutnya sambutan dari orangtua si anak kecil.Pembawa acara pun tampil, “ Para hadirin yang saya mulikan, tibalah saatnya kita mendengar sambutan dari Pahlawan kita hari ini, seorang pemuda Indonesia yang berani, kepada saudara Amir saya persilahkan maju ke depan.
Amir pun maju ke depan, tetap dengan wajah yang semakin cemberut, di depan Microfone dia diam dan memandang berkeliling ke semua hadirin dan memulai sambutannya, masih tetap cemberut dan menunjukkan ketidakpuasan, “ Saudara-saudara, saya tidak akan berpanjang-panjang, saya Cuma mau tanya… tadi sore siapa yang ngejorokin saya dari kapal ini…?!
KB Cap Jempol
Perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya pada awal tahun 70-an sedang giat-giatnya mengkampanyekan program KB. Klinik perusahaan juga demikian.
Poster KB ditempelkan di tempat-tempat yang strategis agar mudah dibaca oleh khalayak ramai. Klinik sibuk, berhubung banyak karyawan yang mau ikutan KB. Karyawan umumnya rakyat setempat yang berasal dari kampung-kampung di sekitarlokasi perusahaan. Karyawan yang berasal dari daerah lain juga banyak; di antaranya dari Tapanuli,Minang, Jawa Barat (umumnya mechanic), Jawa Tengah< Ambon, dan sebagainya.
Salah seorang karyawan yang berasal dari Jawa Tengah mengeluh karena anaknya sudah Sembilan orang. Punya anak lagi, kasihan istri; di samping usia pasangan ini sudah mendekati angka 50-an. Soal KB masih awam, nggak ngerti.
Terjadi dialog antara si pegawai dengan dokter klinik.
Pegawai : ”Pak Dokter, saya mau ikut KB saja.”(dengan logat Jawa Tengah yang Kental ). Anak saya sudah Sembilan, kasian istri… pak !”
Dokter : “ Oh… begithu toh Pak…” Jadi sampeyan nggak pengen punya anak lagi toh…”
Pegawai : “ Njee… Pak, tulung yo…”
Dokter : ” Baik… Ini ada beberapa cara. Yang ini (sambil memperlihatkan kemasan pil KB), Ibune… tinggal minum”. Kalau yang ini, bapak yang pke (sambil memeperlihatkan bungkus plastic kecil). “ Bapak piih yang mana…?
Pegawai : “ Biar yang itu sajjaaa pak dokter… biar saya yang pake…” Kasihan Istri kalau harus minum pil…”
Dokter : “ Baik… Ini plastiknya bapak buka dan dipakenya beghini…! (sambil menyarungkan karet KB ke Jempol kirinya memberi contoh). Kalo di pake ‘e begini, bapak ibu aman… Ibu ‘e nggak bakalan Hamil lagi…” Ngerti toh… pak…”
Pegawai : “ Njeee… Pak Dokter.” Selang beberapa bulan, si pegawai kembali ke klinik dengan muka kesal karena ternyata istrinya hamil lagi.
Pegawai : “ Pak Dokter pie toh Pak… istri saya kok hamil lagi…? ”Katanya nggak bakal hamil…! (bicara dengan dokter dengan nada kesal).
Dokter : “ Hamil lagi ?... nggak mungkin…”
Pegawai : “ Benner lho Pak… ini bapak liat sendiri…(sambil menunjuk pada istrinya yang berdiri di sampingnya).
Dokter : “ Lha.. Bapak makek ‘e ghimana…?” (bertanya heran…)
Pegawai : “ Iyo… sesuai petunjuk Bapak…! Ini saya sarungkan ke jempol kiri saya, ya sudhahhh…!”
Dokter : “ Pak ’e, nyarungnya jangan ke jari lho Pak…! “ Walah… Walah…”
Poster KB ditempelkan di tempat-tempat yang strategis agar mudah dibaca oleh khalayak ramai. Klinik sibuk, berhubung banyak karyawan yang mau ikutan KB. Karyawan umumnya rakyat setempat yang berasal dari kampung-kampung di sekitarlokasi perusahaan. Karyawan yang berasal dari daerah lain juga banyak; di antaranya dari Tapanuli,Minang, Jawa Barat (umumnya mechanic), Jawa Tengah< Ambon, dan sebagainya.
Salah seorang karyawan yang berasal dari Jawa Tengah mengeluh karena anaknya sudah Sembilan orang. Punya anak lagi, kasihan istri; di samping usia pasangan ini sudah mendekati angka 50-an. Soal KB masih awam, nggak ngerti.
Terjadi dialog antara si pegawai dengan dokter klinik.
Pegawai : ”Pak Dokter, saya mau ikut KB saja.”(dengan logat Jawa Tengah yang Kental ). Anak saya sudah Sembilan, kasian istri… pak !”
Dokter : “ Oh… begithu toh Pak…” Jadi sampeyan nggak pengen punya anak lagi toh…”
Pegawai : “ Njee… Pak, tulung yo…”
Dokter : ” Baik… Ini ada beberapa cara. Yang ini (sambil memperlihatkan kemasan pil KB), Ibune… tinggal minum”. Kalau yang ini, bapak yang pke (sambil memeperlihatkan bungkus plastic kecil). “ Bapak piih yang mana…?
Pegawai : “ Biar yang itu sajjaaa pak dokter… biar saya yang pake…” Kasihan Istri kalau harus minum pil…”
Dokter : “ Baik… Ini plastiknya bapak buka dan dipakenya beghini…! (sambil menyarungkan karet KB ke Jempol kirinya memberi contoh). Kalo di pake ‘e begini, bapak ibu aman… Ibu ‘e nggak bakalan Hamil lagi…” Ngerti toh… pak…”
Pegawai : “ Njeee… Pak Dokter.” Selang beberapa bulan, si pegawai kembali ke klinik dengan muka kesal karena ternyata istrinya hamil lagi.
Pegawai : “ Pak Dokter pie toh Pak… istri saya kok hamil lagi…? ”Katanya nggak bakal hamil…! (bicara dengan dokter dengan nada kesal).
Dokter : “ Hamil lagi ?... nggak mungkin…”
Pegawai : “ Benner lho Pak… ini bapak liat sendiri…(sambil menunjuk pada istrinya yang berdiri di sampingnya).
Dokter : “ Lha.. Bapak makek ‘e ghimana…?” (bertanya heran…)
Pegawai : “ Iyo… sesuai petunjuk Bapak…! Ini saya sarungkan ke jempol kiri saya, ya sudhahhh…!”
Dokter : “ Pak ’e, nyarungnya jangan ke jari lho Pak…! “ Walah… Walah…”
Barang Baru
Paul, seorang bandot tua punya hobi yang sama dengan anaknya, David (anda yang namanya sama bukan family mereka lho). Hiburan malam dan pulang pagi adalah hobi mereka, dan satu sama lain tidak mau kalah dalam hal kepiawaian menguasai bidang ini. Semua diskotik, mandi uap dan panti pijat yang ada di kota mereka serta semua manusia di dalamnya telah mereka kenal sampai baunya sekalipun.
Satu malam (tepatnya pagi), Paul pulang hanya sepersepuluh menit lebih dulu dari si David. Ditariknya si David dan di ciumnya tangannya: “…Eh, lw pasti sama si Susy nih”. David punmengaku, karena memang demikianlah adanya.
Esoknya, David tunggu Bapaknya pulang, maksudnya mau ngalahin sang Babe di bidang bau-membau ini. Ditariknya Paul dan diciumnya tangannya: ”…eh,be, ini pasti si Donna, nggak salah lagi, kan …” Sang Babe surprise juga dibuat anaknya , soalnya itu seratus persen betuul. Tapi , gua kan seniornya pikirnya. Pasti kubikin keok besok.
Esoknya lagi, giliran si Paul yang pulang duluan, sengaja nunggu David pulang. Hal serupa terulang, diciumnya tangan anaknya: “…he…he…Vid, ini pasti si Poppy…, kalah lw..” Demikianlah berganti-ganti, bapak anak saling tebak-tebakan, sampai semua stock yang ada sudah dicoba dan tertebak belaka oleh mereka berdua.
Saking nggak mau kalah, waktu giliran David yang mau diperiksa babenya, digosokkannya ke pantat si Bliacky (itu loh…), dan melenggang pulang dengan mobilnya. Betul aja, begitu turun dari mobil, Paul sudah menunggu dengan cengar-cengir bandotnya. Ditariknya tangan anaknya, tapi kali ini ia lama mencium tangan si David, diingat-ingatnya dimana dia pernahcium bau itu… si David pun sudah mau ngakak dan merasa menang. Mampus lw be, pikirnya.
Paul ngaku kalah, tapi masih nanya juga:
“…Siapa sih… Barang baru ya ?”
Satu malam (tepatnya pagi), Paul pulang hanya sepersepuluh menit lebih dulu dari si David. Ditariknya si David dan di ciumnya tangannya: “…Eh, lw pasti sama si Susy nih”. David punmengaku, karena memang demikianlah adanya.
Esoknya, David tunggu Bapaknya pulang, maksudnya mau ngalahin sang Babe di bidang bau-membau ini. Ditariknya Paul dan diciumnya tangannya: ”…eh,be, ini pasti si Donna, nggak salah lagi, kan …” Sang Babe surprise juga dibuat anaknya , soalnya itu seratus persen betuul. Tapi , gua kan seniornya pikirnya. Pasti kubikin keok besok.
Esoknya lagi, giliran si Paul yang pulang duluan, sengaja nunggu David pulang. Hal serupa terulang, diciumnya tangan anaknya: “…he…he…Vid, ini pasti si Poppy…, kalah lw..” Demikianlah berganti-ganti, bapak anak saling tebak-tebakan, sampai semua stock yang ada sudah dicoba dan tertebak belaka oleh mereka berdua.
Saking nggak mau kalah, waktu giliran David yang mau diperiksa babenya, digosokkannya ke pantat si Bliacky (itu loh…), dan melenggang pulang dengan mobilnya. Betul aja, begitu turun dari mobil, Paul sudah menunggu dengan cengar-cengir bandotnya. Ditariknya tangan anaknya, tapi kali ini ia lama mencium tangan si David, diingat-ingatnya dimana dia pernahcium bau itu… si David pun sudah mau ngakak dan merasa menang. Mampus lw be, pikirnya.
Paul ngaku kalah, tapi masih nanya juga:
“…Siapa sih… Barang baru ya ?”
Jumat, 17 Oktober 2008
Tolong Pegangin Ontanya
Kalau di Wild West sono, yang banyak padang rumputnya,banyak cowboy mengembara dengan menunggang kuda, konon di daerah padang pasir banyak Musafir yang mengembara dengan menunggang onta. Ini sebuah cerita tentang si Pengembara yang kebetulan jago tembak, sebut saja si Musafir.
Suatu hari, setelah berbulan-bulan mengembara dari satu oasis ke oasis lainnya, Musafir tiba- tiba merasakan dorongan seks yang amat besar, dan ia bingung gimana cara melampiaskan nafsu seksnya itu.
Kemudian terlintaslah ide ‘miring’ di benaknya… kenapa nggak gue ‘tembak’ aja si onta ini ? Pikirnya lumayan juga daripada nggak ada yang bisa membantu melampiaskan nafsunya. Lalu dia cari akal.
Diikatnya si Onta pada sebuah batu, lalu ia tumpukkan barang-barangnya di belakang si Onta dan ia naik ke atas tumpukan barangnya agar mencapai posisi strategis di belakang onta untuk melaksanakan hajatnya.
Namun merasa didorong-dorong sesuatu, setiap kali si Musafir itu mendorong, si Onta bergerak maju sehingga si Musafir semakin geregetan saja karena sssuuuuusssaaaahhhh buaaaannget masukin ‘anunya’. Bahkan saking nafsunya dia, akhirnya dia terjatuh waktu si onta bergerak maju.
Namun kalo nafsu sudah di ubun-ubun, pantang menyerah deh si Musafir, sekali lagi ia naik ke tumpukan barang-barangnya dan dipegangnya ekor si onta. Merasa ada yang pegang ekornya, si onta malah makin galak sehingga si musafir terjatuh lagi.
Diam-diam dari balik batu ada seorang wanita yang memperhatikan gerak-gerik si Musafir. Ia tersesat dan secara kebetulan sampai di dekat Musafir setelah berhari-berhari tidak makan dan tidak minum.
Melihat si Musafir punya banyak perbekalan, walaupun tingkahnya menurut dia aneh sekali, ia memberanikan diri mendekat dan menyapa si musafir:
“Oom Musafir……”
He…he… kaget deh si Musafir, nggak nyangka akan ketemu seoarang wanita sendirian di Padang Pasir yang gersang ini.
“Ehhh…ooohhh… ada apa Nona?” kata Musafir sambil menarik kembali celananya ke atas dan sedikit malu.
“Saya tersesat dan sudah beberapa hari ini tidak makan dan tidak minum, bolehkan saya minta sedikit makanan dan minuman yang Oom punya,?” Tanya si wanita. Si Musafir terdiam sejenak, dia masih shock karena bertenu dengan wanita ini. Melihat si Oom Musafir terdiam, lalu wanita itu segera bicar lagi ”sebagai imbalan makanan dan minumannya, saya bersedia melakukan apa saja untuk Oom”.
Si Musafir kembali terdiam dan berfikir sejenak, lalu dia menjawab:
“Oke lah… makan dan minimlah sekarang.” Setelah makan dan minum, wanita itu lalu kembali bertanya “ terima kasih Oom, saya sudah kenyang dan tidak dahaga lagi, sekarang giliran saya untuk membalas kebaikan budi Oom. Silahkan Oom bilang yang Oom inginkan dari saya”.
Dengan sedikit malu-malu, si Musafir bertanya:
“Benarkah kamu mau melakukan apa yang saya minta?”
“Pasti Oom…” kata wanita itu, sambil membayangkan apa yang akan diminta oleh si Oom.
Lalu dengan pipi memerah si Musafir akhirnya bicara lagi.
“Baiklah nona, tentunya Nona suadah Melihat apa ya g tadi sesang saya lakukan terhadap Onta saya, kali ini benarkah Nona mau membantu saya?”
“Pasti…”jawab si wanita tidak sabar menunggu si Musafir menyampaikan hasratnya.
“Baiklah Nona, tolong saya pegangin Onta ini dari depan supaya ia tidak bergerak maju” He… si Nona-nya kaget… habis si Oom Musafir nggak ngelirik dia, malah masih penasaran dengan Ontanya.
Suatu hari, setelah berbulan-bulan mengembara dari satu oasis ke oasis lainnya, Musafir tiba- tiba merasakan dorongan seks yang amat besar, dan ia bingung gimana cara melampiaskan nafsu seksnya itu.
Kemudian terlintaslah ide ‘miring’ di benaknya… kenapa nggak gue ‘tembak’ aja si onta ini ? Pikirnya lumayan juga daripada nggak ada yang bisa membantu melampiaskan nafsunya. Lalu dia cari akal.
Diikatnya si Onta pada sebuah batu, lalu ia tumpukkan barang-barangnya di belakang si Onta dan ia naik ke atas tumpukan barangnya agar mencapai posisi strategis di belakang onta untuk melaksanakan hajatnya.
Namun merasa didorong-dorong sesuatu, setiap kali si Musafir itu mendorong, si Onta bergerak maju sehingga si Musafir semakin geregetan saja karena sssuuuuusssaaaahhhh buaaaannget masukin ‘anunya’. Bahkan saking nafsunya dia, akhirnya dia terjatuh waktu si onta bergerak maju.
Namun kalo nafsu sudah di ubun-ubun, pantang menyerah deh si Musafir, sekali lagi ia naik ke tumpukan barang-barangnya dan dipegangnya ekor si onta. Merasa ada yang pegang ekornya, si onta malah makin galak sehingga si musafir terjatuh lagi.
Diam-diam dari balik batu ada seorang wanita yang memperhatikan gerak-gerik si Musafir. Ia tersesat dan secara kebetulan sampai di dekat Musafir setelah berhari-berhari tidak makan dan tidak minum.
Melihat si Musafir punya banyak perbekalan, walaupun tingkahnya menurut dia aneh sekali, ia memberanikan diri mendekat dan menyapa si musafir:
“Oom Musafir……”
He…he… kaget deh si Musafir, nggak nyangka akan ketemu seoarang wanita sendirian di Padang Pasir yang gersang ini.
“Ehhh…ooohhh… ada apa Nona?” kata Musafir sambil menarik kembali celananya ke atas dan sedikit malu.
“Saya tersesat dan sudah beberapa hari ini tidak makan dan tidak minum, bolehkan saya minta sedikit makanan dan minuman yang Oom punya,?” Tanya si wanita. Si Musafir terdiam sejenak, dia masih shock karena bertenu dengan wanita ini. Melihat si Oom Musafir terdiam, lalu wanita itu segera bicar lagi ”sebagai imbalan makanan dan minumannya, saya bersedia melakukan apa saja untuk Oom”.
Si Musafir kembali terdiam dan berfikir sejenak, lalu dia menjawab:
“Oke lah… makan dan minimlah sekarang.” Setelah makan dan minum, wanita itu lalu kembali bertanya “ terima kasih Oom, saya sudah kenyang dan tidak dahaga lagi, sekarang giliran saya untuk membalas kebaikan budi Oom. Silahkan Oom bilang yang Oom inginkan dari saya”.
Dengan sedikit malu-malu, si Musafir bertanya:
“Benarkah kamu mau melakukan apa yang saya minta?”
“Pasti Oom…” kata wanita itu, sambil membayangkan apa yang akan diminta oleh si Oom.
Lalu dengan pipi memerah si Musafir akhirnya bicara lagi.
“Baiklah nona, tentunya Nona suadah Melihat apa ya g tadi sesang saya lakukan terhadap Onta saya, kali ini benarkah Nona mau membantu saya?”
“Pasti…”jawab si wanita tidak sabar menunggu si Musafir menyampaikan hasratnya.
“Baiklah Nona, tolong saya pegangin Onta ini dari depan supaya ia tidak bergerak maju” He… si Nona-nya kaget… habis si Oom Musafir nggak ngelirik dia, malah masih penasaran dengan Ontanya.
Pabrik Es…
Pada suatu hari Bapak Presiden X akan meresmikan suatu pabrik baru.. yaitu pabrik konstruksi baja.
Adalah suatu kebiasaan dipemerintahan tersebut, bahwa untk setiap acara Bapak Presiden X selalu di dampingi oleh ajudan, mentri-mentri dan seterusnya.
Di luar kebiasaan, beliau menyampaikan kata sambutan untuk pembukaan pabrik tersebut tanpa teks. Setelah pidato panjang lebar… sampai suatu saat beliau menyampaikan:”dengan ini, saya meresmikan pabrik Kontruksi Baja…”
Saat itu juga sang ajudan membisikkan sesuatu ke telinga Bapak Presiden X…”pak Kurang S” (maksudnya konstruksi bukan kontruksi)… maka langsung Bapak Presiden X mengulang kata-katanya menjadi “dengan ini saya meresmikan pabrik KONTRUKSI BAJA dan PABRIK ES…” (ech… rupanya Bapak Presiden salah mengerti maksud dari sangau ajudan…!!!).
Langsung aja semua gelagapan… untuk membuat pabrik Es yang belum ada Wujudnya itu…!!!
Adalah suatu kebiasaan dipemerintahan tersebut, bahwa untk setiap acara Bapak Presiden X selalu di dampingi oleh ajudan, mentri-mentri dan seterusnya.
Di luar kebiasaan, beliau menyampaikan kata sambutan untuk pembukaan pabrik tersebut tanpa teks. Setelah pidato panjang lebar… sampai suatu saat beliau menyampaikan:”dengan ini, saya meresmikan pabrik Kontruksi Baja…”
Saat itu juga sang ajudan membisikkan sesuatu ke telinga Bapak Presiden X…”pak Kurang S” (maksudnya konstruksi bukan kontruksi)… maka langsung Bapak Presiden X mengulang kata-katanya menjadi “dengan ini saya meresmikan pabrik KONTRUKSI BAJA dan PABRIK ES…” (ech… rupanya Bapak Presiden salah mengerti maksud dari sangau ajudan…!!!).
Langsung aja semua gelagapan… untuk membuat pabrik Es yang belum ada Wujudnya itu…!!!
Kuahnya Dulu ah…
Konon ini kisah nyata… tapi tokohnya enggan di sebutkan nama aslinya, jadi sebut saja si Otong (sorry kalo ada yang kebetulan sama namanya). Boleh percaya – boleh tidak , inilah kisahnya.
Otong, bujangan 21 tahun, mahasiswa tingkat akhir sebuah PT di Kota Hujan Bogor. Otong tinggal di kamar kos-kosan di daerah Baranangsiang. Si Otong lagi naksir sama anak tetangga yang udah gede dan tinggal di dekat rumah kosnya (he..he.. namanya juga tetangga, kalo ngga di deket-deket, di mana lagi donk ?) sebut saja Susi.
Susi emang keren, denger-denger dia sarjana Ekonomi dan kerja di Bank, masih single, cantik, sexy dan ortuna berdoku.
Si Otong keingetan sama nasehat Bapaknya, katanya jadi laki-laki itu di kasih kesempatan sama Tuhan 2 Kali, yang pertama adalah ‘keluar dari lobang yang tepat’(kayak anaknya Oom Liem atawa anak pejabat kita)… nah klo nggak beruntung dapat kesempatan yang pertama, masih di kasih kesempatan kedua… yaitu ’masuk lobang yang tepat’. Bapaknya sering nyesel nggak dapet dua-duanya, makannya dia ngggak bosen-bosen ingetin si Otong agar kesempatan yang kedua jangan terlewatkan. Pikir si Otong susi inilah lobang yang tepat…
Si Otong bener-bener mabok kepayang sama Susi. Sore sepulang kuliah, kerjanya nongkrong dipintu, pura-pura belajar sambil nungguin Susi turun dari Cielo-nya.
Dasar si Otong tipe orang yang nggak terima kalo Cuma dreaming aja, maka ia pun mulai pasang strategi… dimulai dengan aksi intel lewat Bi Inem, pembokat Susi. Lewat Mbok Inem lah Otong dapet info Susi belom punya cowok, serta kebiasaan Susi. Termasuk kebiasaan Susi yang kalo malam hari takut keluar ke WC dan (maaf…) pipis di Pispot.
Saking ngebetnya sama Susi… si Otong nggak tahan lagi deh …, berkat hubungan baik dengan Bi Inem serta selembar gocengan, si Otong berhasil mendapatkan isi Pispot Susi yang oleh bi Inem dituangkan ke dalam kaleng Blue band.
Di kamarnya, si Otong pegang tuh kaleng Blue band sambil (sekali lagi maaf..) pelorotin celananya sambil bergumam: ‘kali ini kuahnya dulu ah…, lain kali baru dagingnya…’.
Dasar si Otong … emangnya sop buntut…
Otong, bujangan 21 tahun, mahasiswa tingkat akhir sebuah PT di Kota Hujan Bogor. Otong tinggal di kamar kos-kosan di daerah Baranangsiang. Si Otong lagi naksir sama anak tetangga yang udah gede dan tinggal di dekat rumah kosnya (he..he.. namanya juga tetangga, kalo ngga di deket-deket, di mana lagi donk ?) sebut saja Susi.
Susi emang keren, denger-denger dia sarjana Ekonomi dan kerja di Bank, masih single, cantik, sexy dan ortuna berdoku.
Si Otong keingetan sama nasehat Bapaknya, katanya jadi laki-laki itu di kasih kesempatan sama Tuhan 2 Kali, yang pertama adalah ‘keluar dari lobang yang tepat’(kayak anaknya Oom Liem atawa anak pejabat kita)… nah klo nggak beruntung dapat kesempatan yang pertama, masih di kasih kesempatan kedua… yaitu ’masuk lobang yang tepat’. Bapaknya sering nyesel nggak dapet dua-duanya, makannya dia ngggak bosen-bosen ingetin si Otong agar kesempatan yang kedua jangan terlewatkan. Pikir si Otong susi inilah lobang yang tepat…
Si Otong bener-bener mabok kepayang sama Susi. Sore sepulang kuliah, kerjanya nongkrong dipintu, pura-pura belajar sambil nungguin Susi turun dari Cielo-nya.
Dasar si Otong tipe orang yang nggak terima kalo Cuma dreaming aja, maka ia pun mulai pasang strategi… dimulai dengan aksi intel lewat Bi Inem, pembokat Susi. Lewat Mbok Inem lah Otong dapet info Susi belom punya cowok, serta kebiasaan Susi. Termasuk kebiasaan Susi yang kalo malam hari takut keluar ke WC dan (maaf…) pipis di Pispot.
Saking ngebetnya sama Susi… si Otong nggak tahan lagi deh …, berkat hubungan baik dengan Bi Inem serta selembar gocengan, si Otong berhasil mendapatkan isi Pispot Susi yang oleh bi Inem dituangkan ke dalam kaleng Blue band.
Di kamarnya, si Otong pegang tuh kaleng Blue band sambil (sekali lagi maaf..) pelorotin celananya sambil bergumam: ‘kali ini kuahnya dulu ah…, lain kali baru dagingnya…’.
Dasar si Otong … emangnya sop buntut…
Perjaka Tong-Tong
Seorang gadis desa yang lugu hendak merantau ke kota. Sebelum berangkat ibunya menyampaikan pesan. “Nduk…, kalau kamu ke kota dan kebetulan dapat jodoh disana, ini ada pesan dari mbokmu untuk mencari jodoh yang baik” :
1.Cari pasangan yang setia.
2.Pasangan kamu harus yang hemat.
3.Calon kamu itu harus perjaka ting-ting.
Berangkatlah sang gadis ke kota. Dan beberapa bulan kemudian dia kembali ke desanya untuk meminta doa restu ingin menikah.
“Mbok…, saya sudah ketemu jodoh dengan syarat seperti yang Mbok sampaikan kepada saya.
Waktu itu kami berjalan-jalan keliling-keliling kota. Dia selalu saja menggandeng sanya dengan mesra, bukannyaitu tanda pasangan yang setia?”.
Si Mbok manggut-manggut.
“Kemudian karena kemalaman dan kehujanan kami mencari tempat berteduh dan menginap. Pacar saya ini bilang, “Dik kita nginap saja di hotel, tetapi untuk menghemat biaya bagaimana kalau kita hanya menyewa satu kamar saja”. Bukannya pacar saya orangnya hemat mbok?”.
Untuk kedua kali si Mbok manggut-manggut.
Dan akhirnya Mbok…, saya tahu kalau saya itu masih perjaka ting-ting. Langsung si Mbok mendelik; “dari mana kamu tahu bahwa dia masih perjaka ting-ting?” Sang gadis langsung menjawab, “Anunya masih dibungkus plastik Mbok”.
Si Mbok langsung pingsan.
1.Cari pasangan yang setia.
2.Pasangan kamu harus yang hemat.
3.Calon kamu itu harus perjaka ting-ting.
Berangkatlah sang gadis ke kota. Dan beberapa bulan kemudian dia kembali ke desanya untuk meminta doa restu ingin menikah.
“Mbok…, saya sudah ketemu jodoh dengan syarat seperti yang Mbok sampaikan kepada saya.
Waktu itu kami berjalan-jalan keliling-keliling kota. Dia selalu saja menggandeng sanya dengan mesra, bukannyaitu tanda pasangan yang setia?”.
Si Mbok manggut-manggut.
“Kemudian karena kemalaman dan kehujanan kami mencari tempat berteduh dan menginap. Pacar saya ini bilang, “Dik kita nginap saja di hotel, tetapi untuk menghemat biaya bagaimana kalau kita hanya menyewa satu kamar saja”. Bukannya pacar saya orangnya hemat mbok?”.
Untuk kedua kali si Mbok manggut-manggut.
Dan akhirnya Mbok…, saya tahu kalau saya itu masih perjaka ting-ting. Langsung si Mbok mendelik; “dari mana kamu tahu bahwa dia masih perjaka ting-ting?” Sang gadis langsung menjawab, “Anunya masih dibungkus plastik Mbok”.
Si Mbok langsung pingsan.
Topi Untuk Sang Kekasih
Seorang Pemuda yang baru beberapa hari mempunyai pacar yang sangat cantik. Selain cantik, si gadis terkenal di kampusnya berhati mulia, karena itu dia menjadi Primadona Kampus.
Rupanya setelah mereka pacaran, beberapa hari berikutnya si Gadis ulang tahun, maka kesepakatan tersebut dipergunakan si pemuda untuk memperlihatkan cintanya. Maka pada saat itupun ia pergi ke sebuah Mall untuk membeli sesuatu. Setelah dicari ke sana-ke mari maka pilihannya jatuh pada sebuah topi berwarna pink.
Karena ulang tahunnya jatuh pada saat ia belanja, maka si pemuda langsung meminta pramuniaga untuk membungkusnya dengan sampul kado. Pada saat itu juga si pemudamenulis beberapa kata didalam kartu selamat ulang tahun yang berbunyi:”Sayangku! Saya tidak dapat memberikan apa-apa untukmu. Tetapi apa yang saya berikan ini terimalah dengan ikhlas. Sebab apa yang saya berikan ini sangat cocok dengan kulitmu yang mulus itu. Apa lagi kamu memakainya saat kita pergi ke Puncak nanti, maka kamu akan kelihatan lebih sexy. Apalagi kamu memakainya sedikit diturunkan ke bawah, sehingga rambutmu yang indah itu kelihatan.”
Setelah selesai si pemuda memberikan kartu yang ia tulis itu ke si pramuniga untuk ditempelkan di atas kado. Sore harinya si pemuda meluncur ke rumah si cewe dengan gembira, kadonya pun diberikannya kepada sang kekasih dibarengi dengan ciuman yang hangat.
Apa yang terjadi saudara-saudara. Rupanya saat si Pramuniaga membungkus kado tersebut telah terjadi kesalahan. Ternyata saaat itu ada dua orang yang minta dibungkuskan kado. Satu orang minta dibungkuskan topi dan satu orang minta dibungkuskan celana dalam. Coba saudara banyangkan apa yang terjadi, saat si gadis membaca kartu ulang tahunnya itu dan melihat celana dalam tersebut.
Rupanya setelah mereka pacaran, beberapa hari berikutnya si Gadis ulang tahun, maka kesepakatan tersebut dipergunakan si pemuda untuk memperlihatkan cintanya. Maka pada saat itupun ia pergi ke sebuah Mall untuk membeli sesuatu. Setelah dicari ke sana-ke mari maka pilihannya jatuh pada sebuah topi berwarna pink.
Karena ulang tahunnya jatuh pada saat ia belanja, maka si pemuda langsung meminta pramuniaga untuk membungkusnya dengan sampul kado. Pada saat itu juga si pemudamenulis beberapa kata didalam kartu selamat ulang tahun yang berbunyi:”Sayangku! Saya tidak dapat memberikan apa-apa untukmu. Tetapi apa yang saya berikan ini terimalah dengan ikhlas. Sebab apa yang saya berikan ini sangat cocok dengan kulitmu yang mulus itu. Apa lagi kamu memakainya saat kita pergi ke Puncak nanti, maka kamu akan kelihatan lebih sexy. Apalagi kamu memakainya sedikit diturunkan ke bawah, sehingga rambutmu yang indah itu kelihatan.”
Setelah selesai si pemuda memberikan kartu yang ia tulis itu ke si pramuniga untuk ditempelkan di atas kado. Sore harinya si pemuda meluncur ke rumah si cewe dengan gembira, kadonya pun diberikannya kepada sang kekasih dibarengi dengan ciuman yang hangat.
Apa yang terjadi saudara-saudara. Rupanya saat si Pramuniaga membungkus kado tersebut telah terjadi kesalahan. Ternyata saaat itu ada dua orang yang minta dibungkuskan kado. Satu orang minta dibungkuskan topi dan satu orang minta dibungkuskan celana dalam. Coba saudara banyangkan apa yang terjadi, saat si gadis membaca kartu ulang tahunnya itu dan melihat celana dalam tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
