Jumat, 21 November 2008

Salah Ucap

Istri Bardhono akhirnya minta cerai karena musibah yang dialami oleh Bardhono membuat alat vitalnya mengecil, dan tidak bisa disembuhkan.
Nasib tragis yang menimpa Bardhono ini mengundang banyak simpati. Kabar ini akhirnya juga sampai ke telinga Mbah Agung Gede Anune. Lalu melalui telepati dipanggilnya Bardhono untuk datang ke tempat pertapaan di Desa Tuwel di dekat Gunung Guci.
Saat Bardhono datang dan sujud dihadapan MbahAgung Gede Anune, beliau memberikan wejangan-wejangannya:
“Nak Bardhono… tidak usah Ananda sedih dan berkecil hati atas musibah yang telah menimpa Ananda. Mbah punya cara agar Nak Bardhono bisa memulihkan ‘senjata’ Ananda seperti sedia kala” demikian Mbah berkata.
“Sebelumnya saya hanturkan terima kasih atas perhatiaan Mbah kepada saya, saya ingin sekali bisa kembali normal dan kawin lagi Mbah…. Tapi tolong beri saya petunjuk, bagaimana caranya supaya saya bisa kembali seperti semula ?” Tanya Bardhono.
“Nak… sebenarnya semuanya itu bersumber dari kebaikan. Asalkan Nak Bardhono rajin beramal dan berbuat baik niscaya semuanya akan disembuhkan, bahkan akan mendapat kebaikan yang berlipat-lipat” kata Mbah.
“Maksud Mbah bagaimana? Maaf saya kurang jelas.”
“Begini Nak… sejak saat ini, banyaklah berbuat baik dan beramal. Mbah sudah doakan Nak Bardhono. Terhitung sejak saat ini, apabila Nak Bardhono berbuat baik atau beramal kepada orang lain dan orang tersebut mengucapkan terima kasih, maka’Anu’-nya Nak Bardhono akan bertambah panjang dan bertambah besar satu mili meter. Tapi Mbah pesan, jangan lupa… cepat kasih tahu kalau ukurannya sudah sesuai dengan yang Nak Bardhono inginkan” demikian penjelasan Mbah Agung.
“Sekarang pulanglah dan banyaklah berbuat baik dan beramal kepada sesame. Jika orang tersebut berterima kasih, maka berangsur-angsur Nak Bardhono akan sembuh…”
Dengan girang hati Bardhono kembali ke rumahnya, dan sejak saat itu ia rajin berbuat baik dan beramal.
Abu temanya yang sedang tongpes, diberinya 50.000 rupiah sehingga ia berterima kasih. Sri temanya yang sedang menganggur dibantunya mencari pekerjaan sehingga Sri berterima kasih kepadanya.
Bardhono memperhatikan perubahan di Anunya, benar deh mantera si Mbah manjur. Ia melihat anunya berangsur-angsur membesar kembali.
Pada hari ketujuh, akhirnya Bardhono menyadari bahwa anunya sudah kembali normal seperti semula. Ia sudah berniat untuk kembali kepada Mbah Gede Anune dan minta agar si Mbah mencabut manteranya. Namun ia pikir-pikir… “Wah tunggu deh sehari lagi, gue mau gedean dikit lagi…., kan asyik bisa nambah barang dua mili lagi”.
Siang hari itu Bardhono sedang berjalan di sekitar jalan Thamrin, dia melihat seorang perempuan buta yang akan menyeberang jalan. Merasa iba dan ingin berbuat baik, akhirnya Bardhono mendekat ke Wanita buta itu dan menuntunnya menyeberang jalan melalui jembatan penyebrangan di depan Hard Rock CafĂ©…
Si Wanita buta merasa bersyukur karena sudah ada orang yang telah berbaik hati membantunya.
“Terima KAsih Nak, atas bantuannya…” kata perempuan itu.
Wah udah tambah satu mili lagi nih… (kata Bardhono dalam hati). Kalo gua kasih duit sepuluh ribu kali si Ibu ini bilang terima kasih sekali lagi,jadi lumayan deh nambah dua mili, habis ini gue lagi minta Mbah untuk mencabut manteranya.
Lalu Bardhono mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan, diserahkan kepada perempuan buta itu sambil berkata.
“Bu… tidak apa-apa, saya senang sekali bisa menolong Ibu menyebrang jalan. Dan ini saya serahkan uang sepuluh ribu untuk ongkos ibu naik taxi atau naik bus… supaya bisa cepat sampai rumah,” kata Bardhono dengan nada tulus.
Si Perempuan itu sangat terkejut dan hampir tidak percaya hari ini dia ketemu dengan orang yang begitu baik hatinya, sudah membantu menyebrang jalan eh ditambah lagi dengan kasih duit sepuluh ribu. Maka ia menjadi terharu sekali dan mengucapkan terima kasih kepada Bardhono.
“Nak… baru kali ini saya ketemu dengan orang yang sebaik Anda, walaupun Ibu tidak kenal dengan Anda tapi Anda begitu baik menolong dan membantu Ibu… maka Ibu ucapkan BERIBU-RIBU TERIMA KASIH Nak… sekali lagi BERIBU-BERIBU TERIMA KASIH…”
BArdhono panic karena merasa tiba-tiba anunya membesar dan celananya tidak mampu lagi menampung.

Senin, 27 Oktober 2008

Nggak Kompak Ni Ye…

Pendekatan Otong, baik secara territorial maupun pendekatan secara diplomasi akhirnya membuahkan hasil (lihat kuahnya dulu ah…).
Otong akhirnya makin dekat dengan Susi, dan disuatu malam Minggu, Susi mengundang Otong untuk makan bareng di rumahnya, dalam suasana yang lebih resmi, maksudnya sekalian dikenalkan sam Ortu Susi.
Otong kontan girang, namun juga bercampur grogi, karena terus terang meskipun selama ini ia sudah beberapa kali pacaran, tapi semuanyasebatas main-main saja, belon pernah sampai makan bareng sama Ortu cewek.
Pikir Otong jangan sampai ntar malam malu-maluin, ketahuan kalo dia makanya banyak. Maka sore sebelumnya ia datang ke rumah Susi, ia berusaha makan apa saja supaya nanti waktu makan malam tidak rakus lagi. Termasuk satu piring kacang rebus yang dibelinya seribu perak dari penjaja yang lewat di depan kostnya.
Saat yang ditunggu-tunggu tibalah… acara perkenalan dengan Ortu Susi berjalan mulus, karena mereka emang ramah dan gampang ngobrol. Sampai akhirnya tibalah acara makan malam bersama…
Saat otong sedang menyuap makananna yang setengah piring dan sesekali melirik Susi yang malam itu Cuantik banget… perutnya tiba-tiba terasa kembung, kali pengaruh sepiring kacang rebus yang disikat tadi sore…
‘Wah gue pingin buang angin gimana caranya nih…’ pikir si Otong.
Mau minta ijin ke WC, wah nggak sopan nihm masak lagi makan ditinggal ke WC, bisa merusak kesan pertama nih pikirnya. Si Otong cari akal…
Akhirnya ia dapat ide… kalo kursinya di geser sedikit, timbul bunyi ‘krutttt…’ nah klo dia buang angin (maaf) kentut barengan sama bunyi itu kan bunyi anginnya nggak kedengeran.
Akhirnya dengan hati-hati Otong menggeser kursinya sedikit sambil membuang hajatnya…, tapi saying bunyi anginnya dengan bunyi kursi digeser ngggak bareng sehingga yang keluar bunyi ‘kruuuttt….’ Dan selang sepersekian detik baru ‘tuuutttt……’
Otong udah panas dingin, malu ketahuan abis kentut. Ia melirik ke Susi sama Ortunya, beruntung si otong karena mereka ternyata pasang muka biasa-biasa aja, seolah-olah nggak ada apa-apa. Dan kali ini kentutnya juga nggak bau.
‘Selamet deh gue…’ kata si Otong dalam hati. Dan akhirnya acara makan malam selesai dengan mulus.
Waktu Otong mau pamitan pulang, di depan pintu tiba-tiba Susi nyeletuk :
‘Eh Tong…. Tadi nggak kompak ni ye….’ (diem-diem rupanya Susi denger juga).

Siapa yang Ngejorokin Gua ??

Suatu waktu, sebelum kapal Tampomas tenggelam, dalam pelayaran Jakarta-Medan, di tengan perjalanan, waktu itu sore hari seorang anak kecil jatuh ke laut. Semua oaring hanya bisa menonton si anak kecil berjuang sendirian melawan ombak, awak kapal pun tidak ada yang berani menolong. Kapten kapal lewat Microphone menghimbau supaya ada yang mau menolong anak kecil tersebut sebelum meninggak di telan ombak, tetapi tidak ada yang berani, semua hanya bisa menonton, orang tua si anak hanya bisa menangis tersedu-sedu.
Namun, di tengah kehiruk-hirukan suasana, seorang anak muda melompat laut dan menolong si anak kecil, awak kapal segera melontarkan tali ke bawah dan akhirnya sia anak muda berhasil menolong anak kecil tersebut dan mereka berdua berhasil di angkat ke anak kapal.
Begitu sampai di atas kapal, Kapten kapal mendatangi pemuda berani memberikan pujian dan ucapan terima kasih, “ Anda berani sekali, orang seperti andalah yang di butuhkan oleh Negara ini, dan terima kasih atas keberanian Anda, Anda menyelamatkan reputasi saya juga, kita akan mengadakan pesta Syukuran mala mini, Oh.. ya, nama anda Siapa ? Si anak muda menjawab dengan muka ketus dan cemberut, ”Amir”.
Ibu si anak kecil datang dan memeluk Amir, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnyadan juga pujian-pujian serta janji-janji untuk menyenangkan hati si Amir yang tetap kelihatan tidak senang dan cemberut.
Orang-orang juga bingung melihat sikap Amir yang demikian, tetapi setiap orang memberikan selamat kepadanya dengan hati bertanya-tanya.
Malamnya pada saat pesta yang di siapkan meriah, dimulai dengan sambutan-sambutan. Pertama-tama sambutan dari Kapten kapal yang memuji-muji keberaniaan Amir, selanjutnya sambutan dari orangtua si anak kecil.Pembawa acara pun tampil, “ Para hadirin yang saya mulikan, tibalah saatnya kita mendengar sambutan dari Pahlawan kita hari ini, seorang pemuda Indonesia yang berani, kepada saudara Amir saya persilahkan maju ke depan.
Amir pun maju ke depan, tetap dengan wajah yang semakin cemberut, di depan Microfone dia diam dan memandang berkeliling ke semua hadirin dan memulai sambutannya, masih tetap cemberut dan menunjukkan ketidakpuasan, “ Saudara-saudara, saya tidak akan berpanjang-panjang, saya Cuma mau tanya… tadi sore siapa yang ngejorokin saya dari kapal ini…?!